Memaafkan dan Mengikhlaskan
Duh, terima kasih banyak atas perhatian dari temen-temen semua waktu aku sedang melampiaskan kekesalan dan kemarahan di posting sebelumnya.
Jadi sebetulnya nggak ada masalah apapun dengan operasi lututku bulan lalu. Penanganannya tepat, hasilnya bagus, dan proses recovery pun berjalan cukup baik sampai hari ini. Bahkan aku sangat merekomendasikan dr. Andre Pontoh (dokter yang menangani operasi lututku) kalau ada diantara temen-temen yang perlu konsultasi dengan dokter spesialis bedah tulang, karena beliau memang diakui oleh para koleganya sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia, terutama untuk bidang knee surgery.
Kekesalanku kemarin memang lebih disebabkan oleh ‘keluguan’ satu dokter umum yang dipercaya untuk memberikan his ‘expert opinion’ tentang kondisi kesehatanku.
Jadi begini ceritanya…
Sekitar bulan Juli 2005 yang lalu aku melamar ke salah satu lembaga negara yang kebetulan sedang berencana untuk merekrut sejumlah pegawai baru. Meski aku selama ini sudah relatif bahagia dengan pilihan karir sebagai wiraswasta, tapi keinginan untuk menyumbang tenaga dan pikiran bagi bangsa dan negara selalu ada di pikiranku.
Singkat cerita, setelah dinyatakan lolos seleksi administrasi, aku kemudian menjalani serangkaian tes dan wawancara yang sangat panjang, ketat, dan sangat melelahkan baik secara mental maupun fisik, sejak Juli 2005 sampai Oktober 2005 kemarin.
Aku sendiri kurang ingat berapa kali tes yang aku jalani selama masa empat bulan itu (saking banyaknya), tapi yang jelas di tiap tahapan seleksi selalu diberlakukan sistem gugur. Alhasil dari kurang lebih 14.000 orang pelamar di tahap pertama, aku dinyatakan lolos sebagai salah satu dari 9 orang yang masih tersisa untuk posisi yang aku lamar, dan berhak mengikuti tahapan seleksi terakhir… tes kesehatan dan wawancara dengan calon atasan.
Kalau aku ingat-ingat lagi, wawancara dengan calon atasan berjalan dengan sangat baik. Aku diwawancara oleh tiga orang direktur lembaga negara itu, dihujani berbagai pertanyaan sulit dan sangat detail untuk mengetahui latar belakang profesional, kompetensi, gaya manajemen, dan juga sejauh mana pemahamanku tentang dasar hukum, tugas, wewenang, kode etik, dan berbagai hal-hal kecil lainnya yang cukup membuat aku takjub karena tidak menyangka sama sekali kalau mereka akan menanyakan hal-hal kecil yang notabene semestinya hanya diketahui oleh orang-orang yang memang sudah bekerja disitu.
Tapi karena memang aku sudah berniat untuk mengabdi dan betul-betul ingin menyumbang tenaga dan pikiranku di lembaga negara itu, aku sudah mempersiapkan diri dengan baik, meluangkan waktu minimal tiga jam sehari selama tujuh hari penuh sebelum jadwal wawancara… khusus untuk membuat riset dan mempelajari berbagai hal mulai dari yang besar sampai dengan yang kecil tentang lembaga negara itu.
Riset itu tidak sia-sia karena aku sanggup menjawab semua pertanyaan dengan baik, dan membuktikan kalau memang aku berminat untuk mengabdi disitu. Bahkan satu orang direktur tanpa malu-malu sempat berkomentar, “Saya terkesan sekali dengan anda… anda membuktikan bahwa selain punya kompetensi dan integritas yang baik, anda juga menunjukkan komitmen bahwa anda memang betul-betul berminat mengabdi disini.”
Akhirnya jadwal wawancara selama 60 menit hanya mereka pergunakan selama 40 menit, sedangkan 20 menit sisanya justru kita berempat habiskan untuk berdiskusi lebih jauh tentang lembaga negara itu, termasuk langkah dan strategi yang akan ditempuh kedepannya.
Wawancara beres! Aku cukup optimis (tanpa over confidence tentunya) kalau hasil wawancaraku minimal bisa dikatakan sukses.
Nah, tes kesehatan inilah yang menjadi biang permasalahan, karena tes kesehatan itu dilaksanakan hanya lima hari setelah aku operasi.
Dokter umum yang menangani tes kesehatan itu tidak berusaha untuk mencari tahu lebih jauh tentang prosedur operasi yang aku jalani, raut wajahnya justru langsung menunjukkan kalau dia tidak perlu bertanya-tanya lagi dan langsung menuliskan satu catatan singkat di medical record-ku sewaktu aku berkata terus terang kalau aku baru beberapa hari yang lalu menjalani operasi lutut.
Entah kenapa, saat itu perasaanku langsung kurang enak… ![]()
Kekhawatiranku akhirnya terbukti ketika hasil final diumumkan, dari 9 orang yang tersisa… hanya 3 orang saja yang direkrut, dan namaku bukan salah satu diantaranya.
Duh, rasanya dada ini langsung sesak… apalagi membayangkan perjuangan empat bulan dengan berbagai pengorbanan fisik dan mental, menyisihkan 14.000 orang pelamar lebih dari seluruh penjuru Indonesia, semuanya kok jadi terasa sia-sia! ![]()
But life goes on…
Aku mesti memaafkan kesalahan dokter umum itu yang aku duga kuat menjadi penyebab kegagalanku kemarin, dan aku juga mesti mengikhlaskan kalau saat ini memang belum rejekiku untuk mengabdikan diri di lembaga negara itu.
Harus yakin ada hikmah tersembunyi dibalik semua kejadian ini.
Gusti Allah… tolong beri kesabaran, dan beri ganti yang lebih baik. Amiiinnnn…
Pokoknya aku mesti kuat! ![]()
November 16th, 2005 at 6:54 am
SETUJU MAS……. MESTI KUAT!!
November 16th, 2005 at 8:23 am
YUHUUUU…ayo mas Tom… kuatkan Dirimu
byar kayak Ade Rai…*loh piye to*
November 16th, 2005 at 9:54 am
sini dik tom, tak kasik pegangan, **nunjukin tiang bendera** tapi ndak usah pake nyanyi ya, nanti disangka penyanyi dangdut.
November 16th, 2005 at 10:05 am
dik tom, pengalamanmu memang unik ya, aku sekarang bisa membayangkan bahwa engkau adalah makluk langka, ihik, bangga loh punya temen kayak kamu, la tapi kok, aneh ya, prosedur yang sedemikian rumit kok dokternya cuman dokter umum ? lah ?!! cuman umum ??? trus dia berkuasa sekaleee ?? duuhhh.. sabar ya dik tom, ya memang mau diapain lagi kan ? pokoknya yang perlu diinget-inget, aku misik disini
**siap-siap nyodorin tiang bendera buat pegangan**
November 16th, 2005 at 12:40 pm
pasti ada rencana yang lebih baik dari ini.. jadi presiden mugkin.. presidene ketoprak.. *kabuuuuuuuuuuurrrrrrrr*
November 16th, 2005 at 1:59 pm
kejadian ini pernah terjadi sama saya duluuuuu sekali, di sebuah perusahaan bergengsi di kota saya. saya nangis dan ga terima bgt, merasa saya penyakitan sampe ga lulus medical check-up (bagian akhir). tapi hikmahnya skr, perusahaan itu tutup sejak 2 thn lalu, dan saya msh bekerja dgn bidang pekerjaan yg saya bgt.
semoga Allah meberikan Mas Tom kekuatan juga memberikan tempat pekerjaan yg lebih baik.. amin. keep smiling and keep shining Mas Tom
November 16th, 2005 at 4:36 pm
amin…amin…Allahumma amin
semoga Allah selalu memberikan kekuatan dan keikhlasan utk mas Tom
November 16th, 2005 at 5:05 pm
*berdoa semoga direktur yg wawancara mas tom sempet mampir ke blog ini dan memecat dokter tsb*
===> hihi kompor banget yaks
November 18th, 2005 at 2:49 pm
So sorry deh Tom. Aku yg baca jd ikut nyesek. Mungkin sesuatu yg terlihat ‘bagus’ ternyata tidak begitu bagus akhirnya, begitu juga sebaliknya… Who knows?
Pegangan yg kuat, tp jangan sama si Rouf. Nanti malah lebih tersesat hehehe… (kabur sebelum diracun Irwan)
November 18th, 2005 at 6:40 pm
Waduuuh lembaga apa ituuu…rugi besar dia kehilangan dirimu hehehe… Top deh, tetep smangat yak latihan basketnya
November 18th, 2005 at 8:02 pm
positip thinking aja ya mas. mikirnya kayak mikir cewek aja, dia cakep tp milih cowok lain. positip thinkingnya ah cewek itu bukan untukku, bakal datang yg lebih baik, lebih cantik (bisa jiwa dan raga lho
drpd dia.
gitu juga kerjaan, kalo yg ini gagal, semoga yg lebih baik akan datang utkmu!
November 19th, 2005 at 11:34 am
minal aidin wal faidin. mohon maap lahir dan batin
November 19th, 2005 at 5:22 pm
woohh begitu thoo
eniwe met wiken mas.. bener kah katanya mas tom mo jadi presidene Ketoprak?
~
November 19th, 2005 at 6:42 pm
wahh.. turut bersimpati atas usaha mas tom…
semoga, tetep semangat menjalani hidup ini.
LIFE MUST GO ON.. yea rite!
November 20th, 2005 at 3:21 pm
walah….tapi udah sembuh kan mas? Owwhh mo jadi pegawai negeri toh. Emang ga gampang mas….percaya ato nggak..sistem koneksi ga bisa gitu aja hilang di negeri ini
. Tapi bener loah mas…mending kasih URL blog ini ke bos lembaga yg dikau ikuti tesnya ituh> Biar dia baca, trosss…dpecat deh dokternyah
November 21st, 2005 at 7:08 pm
Hahahah…..aduh kesiaaannn….upss,sorry, kadang suka susah menahan tawa nih
Bersyukur aja gak jadi diterima. Aku dulu juga pernah ikutan serangkaian tes yg super stress dan toh gagal. Ternyata ada rencana yg lebih baik di kerjaan yg sekarang. So, nyantai aja. DIA selalu tau waktu yang tepat untuk ngabulin doa kita.Ocre?!?!
November 22nd, 2005 at 8:06 pm
Kita berusaha … Tuhan menentukan jalan hidup. Saya kira nggak perlu kesal dll, kan sudah rasanya puas sewaktu diskusi sewaktu wawancara. Ikhlaskan saja ..
Dokter umum itu hanya jalan, keputusan semua ini dari Yang di Atas Sana.
Mungkin Allah punya rencana lain untuk mas Tom?
November 23rd, 2005 at 10:55 am
Hmm berarti blm rejeki, bukan yg terbaik untuk kita dariNya, musti sabar and tawakkal…. *serius kiyeu nyak*
January 5th, 2006 at 8:29 am
Very sorry to know about what happened to you.
But your really a great person, always be positive.
I wish all the best for you, please do not hesitate to contact me if you need my help